Kejanggalan Lain Tewasnya Santri Banyuwangi: Ambulans Berhenti 1 Jam

Mia Nur Khasanah (22), saat menampilkan potret Bintang Balqis Maulana sewaktu hidup. 


Suyanti (38 tahun), ibu Bintang Balqis Maulana (14), santri Pondok Pesantren (Ponpes) Al Hanifiyyah di Kota Kediri, Jawa Timur, yang meninggal dalam keadaan luka-luka, menyebut putra bungsunya itu sempat dibawa menggunakan motor ke rumah sakit. Bintang, kata Suyanti, dibawa oleh beberapa teman dan sepupunya, Fatahilah.

"Setelah kita desak [Fatahilah], dia mengaku sempat membawa Bintang ke rumah sakit boncengan pakai motor bareng sama temannya. Tapi ditolak karena sudah dalam kondisi meninggal dunia," kata Suyanti saat ditemui di kediamannya di Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi, Senin (26/2).

Mirisnya, kata Suyanti, Fatahilah mengaku setelah itu jenazah Bintang dibawa kembali ke asrama. Fatahilah mendampingi jenazah Bintang yang diinapkan di kamar selama semalam.

"Pengakuan sepupu-sepupu seperti itu. Makanya saya kaget saat mendengar pengakuan tersebut," tutur Suyanti.

Suyanti tak bertanya kepada Fatahilah rumah sakit mana yang menolak menerima Bintang. Saat itu, kata Suyanti, ia sudah terlalu syok karena tak kuasa melihat tubuh putranya itu dipenuhi luka.
PerbesarKondisi jenazah Bintang Balqis Maulana yang penuh luka lebam. Foto: Mili.id
Bahkan saat dibawa ke rumah duka, rombongan pengantar jenazah Bintang sempat berhenti di Kalibaru lebih dari satu jam dengan alasan untuk salat. Padahal menurut Suyanti, ambulans yang membawa jenazah Bintang sudah tepat waktu namun begitu masuk perbatasan Jember-Banyuwangi mendadak lajunya tersendat.

"Pasti ada yang enggak beres. Makanya saya dan anak pertama saya meminta sejak awal untuk dibuka kain kafannya. Namun ada ceceran darah yang membuat kami naik darah melihat kondisi Bintang," ujar Suyanti.

Ceceran darah dari keranda Bintang itulah yang jadi titik awal kecurigaan keluarga. Mereka menduga Bintang bukan tewas karena jatuh di kamar mandi seperti yang disampaikan pihak pesantren, melainkan dianiaya.

"Astaghfirullah. Luka Lebam di sekujur tubuh ditambah ada luka seperti jeratan leher. Hidungnya juga terlihat patah. Tak kuasa menahan tangis. Ini sudah pasti bukan jatuh tapi dianiaya," tutur kakak kandung Bintang, Mia Nur Khasanah (22).

Setelah mendapat laporan dari pihak keluarga, jenazah Bintang sempat dibawa oleh Polres Glenmore ke RSUD Blambangan untuk divisum. Namun hingga saat ini hasilnya belum keluar.

"Kami hanya membantu proses visum. Hasilnya belum keluar, tapi sekilas memang ditemukan ada luka-luka," kata Kasat Reskrim Polresta Banyuwangi, Kompol Andrew Vega.



4 Orang Jadi Tersangka

PerbesarKapolres Kediri Kota, AKBP Bramastyo Priaji. Foto: Dok. Istimewa
Proses hukum kasus ini ditangani Polres Kediri Kota karena lokasi peristiwanya diduga terjadi di Kota Kediri. Dari hasil pemeriksaan polisi menetapkan empat orang sebagai tersangka.


"Kami telah mengamankan 4 orang dan kami tetapkan sebagai tersangka lalu kami melakukan penahanan untuk proses penyidikan lebih lanjut," kata Kapolres Kediri Kota, AKBP Bramastyo Priaji, dalam jumpa pers di Polres Kediri Kota, Senin (26/2).


Empat tersangka itu:



MN (18 tahun) asal Sidoarjo;
MA (18) asal Nganjuk;
AF (16) asal Denpasar;
AK (17), Surabaya.
Mereka adalah sesama santri yang juga kakak kelas korban yang menempuh pendidikan di MTs.


ADVERTISEMENT
Bramastyo menyebut pihaknya masih mendalami lebih lanjut motif penganiayaan itu, termasuk cara para tersangka menganiaya korban. Saat ini jenazah masih diautopsi.


"Motif diduga karena kesalahpahaman antara anak-anak pelajar. Jadi antara mereka mungkin ada salah paham kemudian terjadi penganiayaan yang dilakukan berulang-ulang," ujar Bramastyo.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama