Tanggamus - Intensitas curah hujan yang tinggi khusunya di wilayah Kecamatan Kota Agung Barat dan Wonosobo, Kabupaten Tanggamus meningkatkan potensi bencana yang kapan saja bisa terjadi di wilayah tersebut.
Seperti yang terjadi di aliran sungai Way Belu di Pekon Bandar Kejadian, Kecamatan Wonosobo yang mengalami erosi dan semakin menggerus tanggul hingga mendekati pemukiman warga.
Warga di Pekon Bandar Kejadian yang bermukim di sekitar sungai tersebut mengungkapkan kekhawatiran mereka terhadap potensi bahaya yang dapat terjadi jika situasi ini tidak segera diatasi, sebab lantaran sungai yang semakin mendekat telah mencapai titik kritis.
Beberapa rumah warga berada dalam jarak yang sangat dekat dengan tepi sungai. Sebagian warga bahkan sudah mulai merasakan dampak dari erosi akibat terkikis saat banjir.
Jarak antara tanggul dan halaman rumah warga yang terdekat hanya Lima meter saja, sedangkan lebar tanggul hanya menyisakan Satu meter.
Kekhawatiran warga semakin meningkat, sebab di lokasi tersebut, juga merupakan tempat anak-anak bermain setiap harinya, sehingga apabila banjir tiba-tiba datang, ancaman mengerikan mungkin saja bisa terjadi.
Bukan pemukiman warga saja yang menjadi korban apabila tanggul Way Belu longsor dan jebol tergerus banjir, tak jauh dari lokasi ada hektaran persawahan yang sudah siap panen juga terancam.
Untuk itu, warga di sekitar area tersebut berharap agar pemerintah Kabupaten Tanggamus dapat segera mengambil tindakan preventif dan proaktif.
Mereka menginginkan perhatian serius dalam membangun sistem tanggul atau perlindungan sungai yang mampu mengurangi risiko erosi dan melindungi pemukiman mereka.
Warga mengharapkan langkah-langkah cepat dan proaktif dari pemerintah dapat memberikan rasa aman kepada warga yang terancam dampak sungai yang semakin mendekat, serta mencegah potensi kerugian lebih lanjut akibat erosi yang terus berlanjut.
Warga setempat, Elyana mengatakan bahwa banjir di wilayahnya bukan hanya terjadi kemaren malam saja, namun semenjak terjadi musim hujan sehingga mengakibatkan sering banjir.
"Sungai Way Belu ini kan meluap terus kalau hujan, kemudian disini kan ada tanggul, cuman terbuat dari tumpukan pasir krokos aja, bukan di bronjong jadi pertahanannya tidak kuat, setiap ada banjir ya longsor," kata Elyana, Jumat (1/12/2023).
Elyana menyebut, sebelum longsor setiap banjir, area tersebut awalnya merupakan akses jalan menuju ke sawah oleh masyarakat, namun setiap hujan kemudian banjir, sehingga lama-kelamaan tanggulnya semakin tipis akibat terkikis.
"Yang lebih parah ya tadi malam, sekarang mungkin kurang lebih satu meter lagi. Sisa tanggul itu tidak bisa di lewati kendaraan lagi, kalau jalan kaki bisa," bebernya.
Elyana berharap agar cepat ada penanganan, sebab sangat membahayakan, selain berdampak dengan rumah masyarakat sekitar. Banjir dipastikan mengenai pesawahan yang akan memasuki musim panen.
"Misalnya terjadi hujan yang terus-menerus sampe sore, kemudian sampai malam dan banjir terjadi lagi, kemudian pasir krokos nya longsor dan benar-benar jebol, kami ini tiap malam enggak bisa tidur nyenyak," jelasnya Elyana.
"Kami khawatir jika tanggulnya jebol, karna ini posisinya tepat di depan rumah saya dan tanggulnya sangat tipis," lanjutnya.
Sementara itu, Sekretari Desa (Sekdes) Pekon Bandar Kejadian, Hipni Azwan menjelaskan bahwa permasalahan tanggul itu seharusnya cepat ditangani atau ditanggapi oleh pemerintah Kabupaten Tanggamus, sebab permasalah tersebut akan berdampak kepada harta benda, ribuan hektar sawah, hingga nyawa manusia.
"Dampaknya bukan hanya di Pekon Bandar Kejadian namun untuk wilayah sekitar Kecamatan Wonosobo dan Kota Agung Barat juga bisa terdampak, karna yang memiliki sawah dari sekian ribuan hektar itu adalah warga dari Pekon Bandar Kejadian, warga dari Kota Agung Barat, dan mungkin juga ada dari Kota Agung Pusat," kata Hipni Azwan.
Hipni menambahkan, bahwa selama ini telah dilakukan peninjauan oleh Pemkab, namun untuk penanganannya belum terlaksana.
"Ditinjau sudah, namun pelaksanaan belum ada," tandasnya. (Tomi)
Tags:
Tanggamus
