Pesisir Barat - Lempar selendang merupakan tradisi budaya turun temurun, yang hingga saat ini masih terus dilestarikan oleh Bujang (Mekhanai) dan Gadis (Muli) di Lampung.
Tradisi Budaya lempar selendang biasa dilakukan pada sebuah acara seperti merayakan pernikahan, yang biasanya dilakukan pada malam hari sebagai hiburan untuk kedua mempelai.
Seperti yang dikatakan Yanda Kepala Bujang (Pemimpin Bujang) Pekon Walur, Krui Selatan, Pesibar, tradisi lempar selendang paling sering dilakukan pada saat acara pernikahan.
Namun selain itu, kata Yanda, tradisi lempar selendang dapat juga dilakukan seperti perayaan hari-hari tertentu seperti memperingati hari kemerdekaan, perayaan tahun baru dan hari syawal lebaran.
"Tapi yang paling sering di adakan pada saat acara pernikahan, sekaligus untuk menghibur kedua mempelai," ujar Yanda, Senin (22/1/2024).
Kemudian, lanjut Yanda, seperti acara lempar selendang yang dilaksanakan oleh mekhanai dan muli untuk menghibur saudara kita Andre dan Pinda yang telah melangsungkan pernikahan dikediaman mempelai gadis di Pekon Walur, Kecamatan Krui Selatan.
"Acaranya dihadiri oleh puluhan mekhanai dan muli dari tempat tinggal kedua mempelai masing-masing," jelasnya.
Pada tradisi budaya lempar selendang, para mekhanai dan muli akan duduk saling berhadapan, kemudian terdapat dua kain dan sepasang mekhanai dan muli yang saling mengalungkan kain pada saat musik berbunyi.
"Ketika musik berhenti mekhanai dan muli terakhir yang memegang kain akan mendapatkan hukuman," kata Yanda, Kepala Bujang Pekon Walur.
Sementara untuk hukumannya, lanjut Yanda, pihak penyelenggara sudah menyediakan balon yang telah terisi hukuman, kemudian akan dipilih dengan cara dipecahkan oleh mekhanai dan muli yang terkena hukuman.
"Mekhanai dan muli yang terkena hukuman harus maju kedepan dan melakukan hukuman seperti berbalas pantun, menari bersama, dan berbagai macam hukuman lainnya yang sudah disediakan oleh panitia," paparnya.
Yanda berharap, tradisi lempar selendang di Provinsi Lampung, khususnya di Pesibar agar terus dilestarikan karena selain melestarikan tradisi dan budaya, juga bertujuan untuk mempererat hubungan persaudaraan mekhanai dan muli antar pekon atau kampung.(Wawe)
Tags:
Pesisir Barat
