Inspiratif Kisah Subakir Tetap Menghasilkan Karya Meski Aktivitas Terbatas di Atas Rajang


Lampung Tengah - Kisah inspiratif, seorang pria berjuang selama 30 tahun menghasilkan uang dengan membuat kerajinan bambu di atas ranjang.

Subakir (54), warga Kampung Komering Putih, Kecamatan Gunung Sugih, Lampung Tengah sudah 30 tahun terbaring di ranjang karena kedua kakinya diamputasi dan mengalami kelumpuhan. 

Subakir menceritakan, pekerjaan sebelumnya adalah buruh panen singkong. Namun pada tahun 1993, terjadi kecelakaan kerja yang membuatnya harus diamputasi.

"Separuh badan saya diamputasi karena saya jatuh dari atas pohon kelapa, sejak saat itu saya hanya bisa terbaring di kamar hingga saat ini," ujarnya.

Sejak saat itu, dia mulai berkarya dengan membuat anyaman bambu untuk dijual, meski cara membuatnya hanya diatas kasur.

Dengan keterbatasan tersebut, Subakir memanfaatkan keterampilannya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Anyaman bambu yang dihasilkan subakir diantaranya, Rinjing (besar) dan Tenggok (kecil), Tumbu atau Tompo, Kalo, Besek, Tampah, cikrak, hingga kurungan ayam dari bambu.

"Meskipun hanya dapat Rp 10 ribu sehari, yang penting hasil jerih payah saya sendiri, saya tidak mau merepotkan keluarga," katanya.

Dalam sehari, Subakir mampu menyelesaikan 2 buah anyaman bambu.
Untuk mendapatkan bambu, Subakir mendapat suplai dari tetangga, dan membelinya dengan harga 2 ribu rupiah per batang.

Hasil kerajinan Subakir biasanya dijajakan oleh Ibunya yang berusia sudah 105 tahun.

Harga jualnya bervariasi, mulai dari 10 ribu rupiah hingga Rp 60 ribu. Tergantung dari ukuran dan tingkat kerumitan anyaman.

Namun, dengan kondisi Ibunya yang kini sedang sakit, penjualan hasil kerajinannya hanya mengandalkan tetangga yang lewat.

Tetangga bisa membeli langsung di rumah, atau membantu mengantarkan pesanan.

"Dari hasil kerja anyaman bambu, saya bisa dapatkan uang paling banyak sekitar Rp 300 ribu per bulan," katanya.

Subakir mengatakan, selama dia masih bisa menghasilkan uang dari jerih payahnya sendiri, dia tidak perlu mengandalkan belas kasih orang lain.

Meskipun, tak sedikit orang yang bersimpati dan memberikan santunan. Namun Subakir tak mau bertumpu pada pemberian orang lain.

Subakir tinggal bersama sang Ibu, dan ditemani cucu laki-lakinya yang berusia 15 tahun.

"Setelah saya diamputasi, istri pergi meninggalkan saya. Tapi 3 bulan terakhir cucu tinggal dengan saya sampai sekarang," katanya.

Rela putus sekolah, cucu Subakir rela bekerja sebagai kenek mobil muatan pasir untuk bantu perekonomian keluarga.

Hal itu dilakukan atas kemauan sang anak, tanpa dipaksa oleh bapaknya.
Meski demikian, Subakir mengharapkan cucunya tetap bersekolah.

Agar pendidikan yang baik dapat membawa sang cucu mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.

"Saya harap cucu bisa sekolah, dan saya pun berharap penghasilan saya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga," katanya. (*)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama