Krisis Iran 2026: 5.000 Orang Tewas dalam Kerusuhan Nasional Paling Mematikan Sejak Revolusi 1979

  



TEHERAN, IRAN – Republik Islam Iran tengah menghadapi gelombang kerusuhan domestik terdahsyat dalam beberapa dekade terakhir. Setidaknya 5.000 orang dilaporkan tewas, termasuk sekitar 500 personel keamanan, dalam demonstrasi berskala nasional yang dipicu oleh krisis ekonomi hebat sejak akhir Desember 2025 hingga pertengahan Januari 2026.

Pejabat pemerintah Iran menuding "teroris dan perusuh bersenjata" yang didukung pihak asing sebagai dalang di balik kematian warga sipil. Namun, kelompok Hak Asasi Manusia (HAM) internasional memberikan data yang berbeda, menyebutkan penindakan keras aparat sebagai penyebab utama jatuhnya korban jiwa.

Eskalasi Konflik dan Wilayah Kurdi

Bentrokan paling berdarah dilaporkan terjadi di wilayah barat laut Iran, khususnya di area pemukiman warga Kurdi. Wilayah ini menjadi titik pusat kekerasan dengan jumlah korban jiwa tertinggi. Pihak Teheran menengarai adanya keterlibatan kelompok separatis dan entitas asing yang mencoba memanfaatkan ketidakstabilan di sepanjang perbatasan Iran-Irak.

Ancaman Eksekusi dan Hukum "Mohareb"

Di tengah redanya aksi protes akibat penindakan brutal, pihak kehakiman Iran mengindikasikan akan melanjutkan proses eksekusi mati. Juru Bicara Kehakiman, Ashgar Jahangir, menyatakan bahwa sejumlah demonstran telah diidentifikasi sebagai "Mohareb" (Berperang Melawan Tuhan). Berdasarkan hukum Iran, Mohareb adalah kejahatan berat yang diancam dengan hukuman mati.

Respons Pemimpin Tertinggi dan Tekanan Internasional

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan menyeret negara ke dalam perang, namun bersumpah tidak akan membiarkan "penjahat domestik maupun internasional" lolos dari hukuman. Ia menuduh Amerika Serikat dan Israel sebagai pengorganisir kekerasan tersebut.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberikan peringatan keras. Dalam wawancaranya dengan Politico, Trump menegaskan:

"Sudah saatnya mencari kepemimpinan baru di Iran."

Trump mengancam akan melakukan campur tangan jika eksekusi massal terhadap demonstran terus dilanjutkan. Meski sempat mengapresiasi pembatalan beberapa eksekusi pekan lalu, ketegangan antara Washington dan Teheran kini kembali mencapai titik didih.

Data Penangkapan dan Korban Versi Kelompok HAM

Kelompok HAM HRANA yang berbasis di AS melaporkan data yang masih dalam tahap verifikasi:

  • Korban Tewas Terkonfirmasi: 3.308 jiwa (4.382 lainnya dalam peninjauan).

  • Jumlah Penangkapan: Lebih dari 24.000 orang ditahan sejak protes dimulai.

Situasi di Teheran dan kota-kota besar lainnya saat ini dilaporkan relatif terkendali oleh aparat, namun bara ketidakpuasan masyarakat akibat krisis ekonomi dan tuntutan reformasi politik diprediksi tetap menjadi ancaman stabilitas di masa depan.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama