BANDAR LAMPUNG – Pemerintah Provinsi Lampung resmi menetapkan kebijakan kebudayaan sebagai sasis utama dan fondasi mutlak dalam mengawal proyeksi pembangunan makro daerah. Menolak tunduk pada arus globalisasi yang rentan mengikis jati diri generasi muda, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi dan modernisasi infrastruktur fisik di Bumi Ruwa Jurai wajib berjalan beriringan dengan pelestarian nilai-nilai luhur adat istiadat, Kamis (25/6/2026).
Komitmen strategis tersebut dikunci langsung oleh Iyay Mirza saat melakoni peninjauan taktis di Desa Wisata Budaya Marga Teluk Bandar Lampung, tepatnya di situs bersejarah Lamban Dalom Negeri Olok Gading. Menurut Gubernur, kemakmuran materiil yang dikejar menuju Indonesia Emas 2045 akan kehilangan relevansinya jika masyarakat Lampung tercerabut dari akar filosofi hidupnya sendiri.
“Adat dan budaya harus menjadi fondasi utama pembangunan daerah. Kita ingin Lampung maju dan makmur, tetapi kemajuan itu wajib berdiri tegak di atas karakter dan identitas budaya yang kuat. Arus modernisasi dan kepemilikan gedung-gedung tinggi tidak boleh membuat kita kehilangan jati diri,” tegas Gubernur Mirza berbobot di hadapan para tokoh adat Saibatin.
Hidupkan Kembali Sejarah Abad ke-19: Mengunci Falsafah Piil Pesenggiri
Gubernur menguraikan bahwa kondusivitas makro yang dinikmati Lampung hari ini—ditandai dengan absennya konflik vertikal maupun kecemburuan sosiokultural—merupakan buah manis dari keandalan sasis falsafah hidup warisan leluhur. Nilai-nilai taktis seperti Piil Pesenggiri (harga diri), Nemui Nyimah (terbuka dan bermurah hati), Sakai Sembayan (gotong royong), Nengah Nyappur (mudah berbaur), dan Juluk Adok (tatakrama menyandang gelar adat) telah terbukti fungsional menjaga kerukunan sirkular antara tuan rumah dan pendatang selama ratusan tahun.
Sebagai langkah konkret intervensi kebijakan, Pemprov Lampung saat ini tengah mengidentifikasi secara rigid dan mematangkan draf anggaran untuk merevitalisasi 16 desa budaya di seluruh kabupaten/kota guna disulap menjadi destinasi wisata sejarah berbasis kearifan lokal. Kawasan Negeri Olok Gading dibidik sebagai salah satu jangkar utama proyek ini lantaran rekam jejak historisnya yang kuat sebagai pusat peradaban niaga internasional pada abad ke-19 sebelum dinamika letusan Gunung Krakatau tahun 1883.
Portofolio pengembangan desa budaya ini diproyeksikan fungsional untuk memperpanjang durasi kunjungan (length of stay) wisatawan di Bandar Lampung. Skema ini diyakini ampuh memicu fluktuasi perputaran uang di tingkat tapak melalui penyerapan produk UMKM kuliner tradisional, seni pertunjukan, hingga industri kreatif kerajinan kain Tapis Lampung.
Sinergi Pemkot dan Provinsi: Selamatkan Rumah Panggung Berusia Satu Abad
Rencana ambisius ini mendapat draf dukungan penuh dari Pemerintah Kota Bandar Lampung. Wali Kota Eva Dwiana yang ikut mengawal peninjauan tersebut menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sasis administrasi antara Pemkot dan Pemprov guna mengeksekusi juknis penataan kawasan Olok Gading agar menjelma menjadi etalase pariwisata unggulan yang tertata rawan konflik tata ruang.
Apresiasi tinggi turut dilayangkan oleh Penyimbang Saibatin Kebandaran Marga Balak Telukbetung, Erdiansyah bergelar Gusti Pn Igama Ratu. Pihaknya mengakui bahwa merawat eksistensi rumah panggung tradisional berbahan kayu kuno di tengah kepungan modernisasi urban kota bukanlah perkara mudah dan murah, sehingga draf intervensi anggaran dari pemerintah sangat dinantikan oleh masyarakat adat.
Gayung bersambut, Budayawan Lampung Anshori Djausal menilai pendekatan kebudayaan yang diambil Gubernur Mirza merupakan strategi taktis yang berdaya pikat tinggi. Kawasan cagar budaya seperti Olok Gading dan Kedamaian yang menyimpan koleksi rumah adat berusia di atas satu abad diposisikan sebagai aset investasi bernilai tinggi. Kerapian, keindahan, dan keramahan sosiokultural yang terjaga secara otomatis akan menjadi magnet alami bagi masuknya investor sektor jasa dan pariwisata.
Dalam kunjungan kerja tersebut, Gubernur Mirza bersama rombongan juga melakukan verifikasi lapangan ke sejumlah titik krusial, mulai dari kompleks Makam Pahlawan Marga Teluk Betung di TPU Olok Gading, sanggar latihan tari tradisional generasi muda, hingga memantau langsung draf produksi perajin lokal yang sedang melakoni aktivitas menyulam kain Tapis secara manual sebagai penguat ekonomi kreatif keluarga. (***)